Transformasi digital dalam sektor pelayanan publik telah menjadi fokus utama pemerintah Indonesia guna menciptakan tata kelola yang transparan dan efisien. Di bidang kesehatan, puskesmas sebagai garda terdepan dituntut untuk memberikan pelayanan yang cepat namun tetap akurat. Penggunaan teknologi informasi bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak untuk mengatasi lonjakan jumlah pasien setiap harinya. Menurut Mulyono (2024), digitalisasi layanan kesehatan terpadu mampu memangkas waktu tunggu administratif hingga 40%, yang berdampak langsung pada peningkatan indeks kepuasan masyarakat terhadap instansi pemerintah. Puskesmas Menur Surabaya, sebagai salah satu unit pelaksana teknis kesehatan, memiliki kompleksitas layanan yang tinggi karena melayani berbagai poliklinik mulai dari Poli Umum, Gigi, KIA, hingga Lansia. Namun, dalam observasi lapangan, ditemukan bahwa sistem pengelolaan antrean di Puskesmas Menur masih sangat bergantung pada proses manual. Pasien seringkali harus menunggu tanpa kepastian urutan panggil yang jelas, sementara penumpukan pengunjung di ruang tunggu menyebabkan ketidaknyamanan fisik serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular. Kondisi ini diperburuk dengan kurangnya media informasi visual yang dapat diakses secara real-time oleh pasien untuk memantau status antrean mereka.