Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi di era revolusi industri 4.0 telah mendorong transformasi digital di berbagai sektor, termasuk instansi pemerintahan. Penerapan E-Government menjadi salah satu strategi utama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) serta reformasi birokrasi yang efektif dan efisien. Salah satu aspek krusial dalam reformasi birokrasi adalah manajemen kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN), yang menuntut adanya transparansi, akuntabilitas, dan objektivitas dalam penilaian prestasi kerja. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, sebagai instansi yang memegang peranan vital dalam pelayanan kesehatan publik, memiliki jumlah pegawai yang besar dengan kompleksitas tugas yang beragam. Untuk menunjang manajemen sumber daya manusia yang optimal, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur menerapkan sistem E-Kinerja. Sistem ini bertujuan untuk memantau, mengukur, dan mengevaluasi kinerja pegawai secara berkala. Namun, dalam implementasinya, efektivitas sebuah sistem informasi tidak hanya bergantung pada fungsinya saja, melainkan juga pada aspek kegunaan (usability) dan pengalaman pengguna (User Experience). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama kegiatan Kerja Praktik, terdapat kebutuhan krusial dalam pengelolaan kinerja pegawai, khususnya pada fitur penambahan kinerja baru dan penetapan Indikator Kinerja Individu (IKI). Proses ini merupakan tahap fundamental di mana pegawai harus mendefinisikan target kerja mereka agar selaras dengan tujuan organisasi. [Tambahkan kalimat masalah spesifik di sini, contoh: Namun, antarmuka (User Interface) yang ada saat ini dirasa masih kaku dan menyulitkan pengguna dalam menavigasi menu input indikator, sehingga sering terjadi kesalahan input atau kebingungan saat pegawai ingin menambahkan item kinerja baru]. Permasalahan pada sisi User Interface (UI) dan User Experience (UX) ini dapat menghambat efisiensi waktu pegawai dan akurasi data kinerja. Jika sistem sulit digunakan, motivasi pegawai untuk mengisi laporan kinerja secara rutin dapat menurun, yang pada akhirnya berdampak pada validitas laporan kinerja instansi. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan perancangan yang berfokus pada kebutuhan dan karakteristik pengguna untuk memastikan sistem dapat digunakan dengan mudah dan intuitif. Metode User-Centered Design (UCD) dipilih sebagai pendekatan dalam pengembangan ini karena menempatkan pengguna (pegawai Dinas Kesehatan) sebagai pusat dari proses perancangan sistem. Dengan menggunakan metode UCD, pengembangan fitur penambahan kinerja dan indikator kinerja individu dapat disesuaikan dengan model mental dan alur kerja pegawai.