Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia, dengan subsektor konstruksi berat dan teknik sipil memainkan peran strategis dalam proyek-proyek berskala besar seperti jalan tol, jembatan, dan bendungan. Meskipun dukungan pemerintah dan volume proyek meningkat, kinerja pasar perusahaan-perusahaan di subsektor ini mengalami stagnasi atau penurunan, dibuktikan dengan turunnya nilai perusahaan di tengah meningkatnya pendapatan. Paradoks ini menimbulkan pertanyaan kritis tentang sejauh mana kinerja keuangan internal diterjemahkan menjadi valuasi pasar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh likuiditas, aktivitas, struktur modal, dan profitabilitas terhadap pertumbuhan berkelanjutan dan nilai perusahaan, dengan tata kelola perusahaan yang baik sebagai variabel moderasi, dengan fokus pada perusahaan konstruksi berat dan teknik sipil yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif kausal-eksplanatif untuk menguji hubungan sebab akibat antar variabel melalui analisis statistik. Dengan menggunakan purposive sampling, data dari 18 perusahaan di subsektor yang ditargetkan selama tahun 2021-2023 dianalisis. Metode Partial Least Squares (PLS) diterapkan untuk mengevaluasi pengaruh likuiditas, aktivitas, struktur modal, profitabilitas, pertumbuhan berkelanjutan, nilai perusahaan, dan tata kelola perusahaan yang baik, termasuk peran mediasi dan moderasi dalam model. Temuan penelitian menunjukkan bahwa dari 14 hipotesis, 5 diterima dan 9 ditolak. Secara spesifik, likuiditas dan struktur modal memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap pertumbuhan berkelanjutan, sedangkan aktivitas dan profitabilitas menunjukkan pengaruh positif dan signifikan. Terkait nilai perusahaan, aktivitas juga memiliki pengaruh positif dan signifikan, sedangkan likuiditas, struktur modal, dan profitabilitas tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Pertumbuhan berkelanjutan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan dan secara signifikan memediasi hubungan antara aktivitas dan nilai perusahaan. Namun, tidak memediasi pengaruh likuiditas, struktur modal, dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Lebihjauh, tata kelola perusahaan yang baik tidak memoderasi pengaruh pertumbuhan berkelanjutan terhadap nilai perusahaan. Temuan ini menyoroti bahwa efisiensi operasional dan pertumbuhan berkelanjutan merupakan pendorong utama dalam meningkatkan nilai perusahaan, sementara kelebihan likuiditas, struktur pembiayaan, dan praktik tata kelola belum menunjukkan pengaruh yang konsisten atau signifikan dalam konteks subsektor konstruksi berat dan teknik sipil di Indonesia.